Loading...

Tuesday, March 22, 2011

Download Prasasti - Kau menghilang

http://www.stafaband.info/download/121000/Prasasti/Kau_Menghilang_.html

Download Prasasti - Winda

http://www.stafaband.info/download/121001/Prasasti/Winda_.html

Sahabat

Sahabat……
jika matamu berat tuk
memandangku
maka ringankan lah kaki mu tuk pergi dariku
jika bibir mu terpaksa senyum pada ku
maka relakan lah wajah mu tuk berpaling dariku

Sahabat…..
jika susah kamu melupakan kesalahan ku
senangkan lah lidah mu tuk menghina aku
Tapi andai suatu hari nanti telinga mu
mendengar bertita kematian ku
Maka ikhlaskan lah tangan mu mengusung jenazah ku dan bisikan ke telinga ku bahwa
kamu telah mema ’afkan ku

Dan semoga kalimat terakhir itu menjadi pelita di kamar gelap
ku
Serta menjadi bantal selama akhir hidup ku

Monday, March 21, 2011

Terlintas kenangan itu
terbesit dalam benakku
kerapuhan menemaniku
dan
hanya air mata
yang mengarungi perasaan ini
memendam kerinduan
hanya membuat diri ini
tak jujur
dan hati ini
hanya bisa memberontak
dan hanya bisa memohon
untuk mengetahui isi hati ini
hati akan selalu lemah
jiwa akan selalu rapuh
perasaan akan selalu terpendam
jika diri ini tak kan bisa jujur
tak ada yang bisa dipersalahkan
kini semua hanya berakhir
dengan penantian
dan. . .
harapan. . .

Friday, March 4, 2011

Asal-usul Kartu kuning dan merah dalam Sepak bola.

Apakah
penggunaan kartu
merah dan kuning
sudah dikenal
begitu sepak bola
modern muncul?
Jawabannya tidak. Kartu merah
dan kuning baru diperkenalkan
pada Piala Dunia 1970.
Namun, inspirasinya muncul
pada Piala Dunia 1966, pada
perempat final antara tuan
rumah Inggris dan Argentina.
Wasit yang memimpin
pertandingan itu berasal dari
Jerman, yakni Rudolf Kreitlein.
Karena melakukan pelanggaran
keras, kapten Argentina,
Antonio Rattin, dikeluarkan oleh
Kreitlein. Namun, Rattin tak
paham apa maksud wasit asal
Jerman itu. Dia pun tak segera
meninggalkan lapangan.
Wasit Inggris yang ikut
bertugas di pertandingan itu,
Ken Aston, kemudian masuk ke
lapangan. Dengan sedikit modal
bahasa Spanyol, dia merayu
Rattin untuk meninggalkan
lapangan. Pasalnya, wasit yang
memimpin pertandingan,
Rudolf Kreitlein, memutuskan
begitu. Karena hanya tahu
bahasa Jerman dan Inggris, ia
kesulitan menjelaskan
keputusannya kepada Rattin.
Karena kasus ini, Ken Aston
kemudian berpikir. Harus ada
komunikasi universal yang bisa
langsung diketahui semua
orang, ketika wasit memberi
peringatan kepada pemain atau
mengeluarkannya dari
lapangan. Dengan demikian,
wasit tak perlu harus membuat
penjelasan dengan bahasa yang
mungkin tak diketahui pemain.
Suatu hari, dia berhenti di
perempatan jalan. Melihat lampu
lalu lintas, dia kemudian
mendapatkan ide. Kemudian,
dia mengusulkan agar wasit
dibekali kartu kuning dan
merah. Kartu kuning untuk
memberi peringatan keras atau
sanksi ringan kepada pemain
yang melakukan pelanggaran.
Adapun kartu merah untuk
sanksi berat, dan pemain yang
melakukan pelanggaran berat
itu harus keluar dari lapangan.
Ide itu diterima FIFA. Pada Piala
Dunia 1970, kartu kuning dan
merah kali pertama digunakan.
Ironisnya, sepanjang Piala Dunia
1970 tak satu pun pemain yang
terkena kartu merah. Hanya
kartu kuning yang sempat
dilayangkan sehingga kartu
merah tak bisa "pamer diri"
pada Piala Dunia 1970.
Meski ide tersebut datang dari
wasit Inggris, negeri itu tak
serta merta menerapkannya di
kompetisi mereka. Kartu merah
dan kuning baru digunakan di
kompetisi sepak bola Inggris
pada 1976. Pasalnya, wasit
kemudian terlalu mudah
mengeluarkan kartu dan
diprotes banyak pemain. Oleh
sebab itu, penggunaannya
sempat dihentikan pada 1981
dan 1987.
Yang menarik, ide ini
diadopsikan di cabang olahraga
hoki. Bahkan, kartu-kartu
peringatan di cabang ini
menggunakan tiga warna
seperti lampu lalu lintas: hijau,
kuning, dan merah. Hijau untuk
peringatan, kuning untuk
mengeluarkan pemain
sementara waktu, dan merah
untuk mengusir pemain secara
permanen.

Thursday, March 3, 2011

Senja

Senja adalah semacam
perpisahan yang mengesankan.
Cahaya emas berkilatan pada
kaca jendela gedung-gedung
bertingkat, bagai disapu kuas
keindahan raksasa. Awan
gemawan menyisih, seperti
digerakkan tangan-tangan dewa.
Cahaya kuning matahari melesat-
lesat. Membias pada gerak
jalanan yang mendadak berubah
bagai tarian. Membias pada
papan-papan reklame. Membias
pada percik gerimis dari air
mancur. Membias diantara
keunguan mega-mega. Maka
langit bagaikan lukisan sang
waktu, bagaikan gerak sang
ruang, yang segera hilang.
Cahaya kuning senja yang makin
lama makin jingga menyiram
jalanan, menyiran segenap
perasaan yang merasa diri
celaka. Mengapa tak berhenti
sejenak dari upacara kehidupan?
Cahaya melesat-lesat, membias,
dan membelai rambut seorang
wanita yang melambai tertiup
angin dan dari balik rambut itu
mengertap cahaya anting-anting
panjang yang tak terlalu
gemerlapan dan tak terlalu
menyilaukan sehingga bisa
ditatap bagai menatap semacam
keindahan yang segera hilang,
seperti kebahagiaan.
Langit senja bermain di kaca-
kaca mobil dan kaca-kaca etalase
toko. Lampu-lampu jalanan
menyala. Angin mengeras. Senja
bermain diatas kampung-
kampung. Diatas genting-
genting. Diatas daun-daun.
Mengendap ke jalanan.
Mengendap ke comberan.
Genangan air comberan yang tak
pernah bergerak
memperlihatkan langit senja
yang sedang bermain.
Ada sisa layang-layang dilangit,
bertarung dalam kekelaman. Ada
yang sia-sia mencoba bercermin
di kaca spion sepeda motornya.
Ada musik dangdut yang
mengentak dari warung. Babu-
babu menggendong bayi di balik
pagar. Langit makin jingga,
makin ungu. Cahaya keemasan
berubah jadi keremangan.
Keremangan berubah jadi
kegelapan. Bola matahari
tenggelam di cakrawala, jauh,
jauh diluar kota. Dan kota tinggal
kekelaman yang riang dalam
kegenitan cahaya listrik. Dan
begitulah hari –hari berlalu.
Lampu-lampu kendaraan yang
lalu-lalang membentuk untaian
cahaya putih yang panjang dan
cahaya merah yang juga
panjang. Wajah anak-anak
penjual Koran dan majalah di
lampu merah pun menggelap.
Mereka menawarkan Koran sore
dan majalah ke tiap jendela mobil
yang berhenti. Bintang-bintang
mengintip dilangit yang bersih.
Seorang wanita, entah dimana,
menyapukan lipstik ke bibirnya.
Malam telah turun di Jakarta.
Dimeja sebuah bar, yang agak
terlalu tinggi, aku menulis sajak
tentang cinta.