Loading...

Jumat, 25 Februari 2011

Qur'an Surat An nur Ayat.26

ﺍَﻟْﺨـَﺒِﻴـْﺜــﺎَﺕُ ﻟِﻠْﺨَﺒِﻴْﺜـِﻴْﻦَ
ﻭَ ﺍْﻟﺨَﺒِﻴْﺜُــﻮْﻥَ ﻟِﻠْﺨَﺒِﻴْﺜﺎَﺕِ
ﻭَ ﺍﻟﻄَّﻴِّﺒَﺎﺕُ ﻟِﻠﻄَّﻴِّﺒِﻴْﻦَ ﻭَ
ﺍﻟﻄَّﻴِّﺒُﻮْﻥَ ﻟِﻠﻄَّﻴِّﺒَﺎﺕِ .
“ Wanita-wanita yang tidak baik
untuk laki-laki yang tidak baik,
dan laki-laki yang tidak baik
adalah untuk wanita yang tidak
baik pula. Wanita yang .baik
untuk lelaki yang baik dan lelaki
yang baik untuk wanita yang
baik. (Qs. An Nur:26)
Beberapa waktu yang lalu saya
mendapatkan SMS tausiyah yang
berisi ayat diatas yaitu surat An-
nur ayat 26.Lalu ada seorang
teman yang menanyakan, apakah
benar isi ayat ini? Apakah mesti
“otomatis” wanita yang tidak
baik untuk laki-laki yang tidak
baik juga?Bagaimana Seandainya
dalam kehidupan nyata ada
seorang pria yang baik dan dia
mendapatkan wanita yang tidak
baik?Apakah ayat Al Quran diatas
salah?
Pertanyaan seperti itu
sebenarnya menjadi pertanyaan
saya juga dari dulu dan saya
mencoba memahami apa yang
saya pahami dari ayat tersebut.
Al Quran sebagai Petunjuk
Umat Islam diseluruh dunia
meyakini bahwa Quran itu
firman Allah.Artinya apa yang
dikatakan Allah dalam Quran
dipastikan benar.Tuhan memberi
tahu kepada kita bagaimana cara
kita mengenalnya dengan
diutusnya nabi.Sebab akal
manusia tidak akan sampai
untuk mengenal siapa
Tuhannya,oleh karena itu Tuhan
memberi petunjuk.Petunjuk jalan
yang lurus agar dapat
mengenalnya.Dalam memahami
petunjuknya berupa
firmanNya,terdapat keterbatasan
diri kita,sehingga firman Tuhan
yang sudah pasti benar,bisa saja
menjadi salah dengan
pemahaman kita.
Karena apa yang dimaksud baik-
salah itu adalah menurut Tuhan.
Standar baik-buruk itu tentu saja
sudah ditentukan oleh
Tuhan.Bahkan kata baik-buruk
itu ada karena adanya agama.
Artinya apa?
Jika kita menilai sesuatu itu baik-
buruk tentu saja berdasarkan
kepada ajaran agama.Karena
tidak logis jika kita menilai
sesuatu itu baik/buruk hanya
berdasarkan pemikiran
sendiri,karena premis baik atau
tidak baik itu muncul dari adanya
Tuhan.Tuhan yang menentukan
standar ini baik dan ini
buruk.Sangat tidak rasional jika
hanya menentukan baik/buruk
hanya menurut kita karena
premis yang digunakan kita
ketahui dari Tuhan,sehingga
dalam memahami ayat yang
diturunkan Tuhan (Kauliah) atau
ketetapan yang terjadi di bumi
secara logis dapat kita katakan
bahwa Allahlah yang mengetahui
sesuatu itu baik atau tidak.
AnNur ayat 26
”Wanita-wanita yang keji adalah
untuk laki-laki yang keji dan laki-
laki yang keji adalah untuk
wanita-wanita yang keji (pula),
dan wanita-wanita yang baik
adalah untuk laki-laki yang baik
dan laki-laki yang baik adalah
untuk wanita-wanita yang baik
(pula). Mereka (yang dituduh) itu
bersih dari apa yang dituduhkan
oleh mereka (yang menuduh itu).
Bagi mereka ampunan dan rizki
yang mulia (surga). ”
Berangkat dari pemahaman
diatas,tentu saja kita bertanya-
tanya apakah yang dimaksud
baik disini?Atau keji? Apakah kita
dapat menentukan sesuatu itu
baik atau tidak baik?Kalau kita
cermati ayat diatas merupakan
satu paket ayat yang
bersambung ,tidak hanya putus
pada kalimat “untuk wanita yang
baik”tetapi masih berlanjut
dengan bahasan tuduhan , juga
ampunan.Artinya ayat ini
sebenarnya diturunkan dalam
konteks tertentu.Coba kita lihat
konteks ayat ini turun
Ayat ini diturunkan untuk
menunjukkan kesucian ‘Aisyah
r.a. dan Shafwan bin al-Mu’attal
r.a. dari segala tuduhan yang
ditujukan kepada mereka.
Pernah suatu ketika dalam suatu
perjalanan kembali dari ekspedisi
penaklukan Bani Musthaliq,
‘ Aisyah terpisah tanpa sengaja
dari rombongan karena mencari
kalungnya yang hilang dan
kemudian diantarkan pulang
oleh Shafwan yang juga
tertinggal dari rombongan
karena ada suatu keperluan.
Kemudian ‘Aisyah naik ke
untanya dan dikawal oleh
Shafwan menyusul rombongan
Rasullullah SAW. dan para
shahabat, akan tetapi
rombongan tidak tersusul dan
akhirnya mereka sampai di
Madinah. Peristiwa ini akhirnya
menjadi fitnah dikalangan umat
muslim kala itu karena terhasut
oleh isu dari golongan Yahudi
dan munafik jika telah terjadi
apa-apa antara ‘Aisyah dan
Shafwan.
Masalah menjadi sangat pelik
karena sempat terjadi
perpecahan diantara kaum
muslimin yang pro dan kontra
atas isu tersebut. Sikap Nabi juga
berubah terhadap ‘Aisyah, beliau
menyuruh ‘Aisyah untuk segera
bertaubat. Sementara ‘Aisyah
tidak mau bertaubat karena tidak
pernah melakukan dosa yang
dituduhkan kepadanya, ia hanya
menangis dan berdoa kepada
Allah agar menunjukkan yang
sebenarnya terjadi. Kemudian
Allah menurunkan ayat ini yang
juga satu paket annur 11-26.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar